Selasa, 20 Oktober 2015

Stress, Faktor Psikologis, dan Kesehatan


Psikologi yang mempelajari keterkaitan antara faktor psikologis dan kesehatan fisik disebut psikologi kesehatan. Faktor psikologis mempengaruhi dan dipengaruhi oleh fungsi fisik, jadi kesehatan fisik dan kesehatan mental tidak terpisahkan.
Istilah stress menunjukkan adanya tekanan atau kekuatan pada tubuh. Dalam psikologis, kita menggunakan istilah stress untuk menunjukkan suatu tekanan atau tuntutan yang dialami individu/organisme agar ia beradaptasi atau menyesuaikan diri. Sumber stress disebut dengan stressor. Istilah stress perlu dibedakan dengan istilah distress. Distress mengacu pada penderitaan fisik atau mental. Stress membuat kita tetap aktif dan waspada. Stress yang terlalu kuat melebihi kemampuan kita untuk mengatasi (coping ability) dan menyebabkan distress emosional seperti depresi atau kecemasan, atau keluhan fisik seperti kelelahan dan sakit kepala. Stress berimpilasi secara luas pada masalah-masalah fisik maupun psikologis.
Kita mulai mempelajari efek-efek dari stress dengan membahas suatu kategori gangguan psikologis yang disebut gangguan penyesuaian yang menyangkut reaksi maladaptif terhadap stress. Gangguan penyesuaian merupakan suatu reaksi maladaptif terhadap suatu stressor yang dikenali dan berkembang beberapa bulan sejak munculnya stressor.

Stress dan Penyakit
Stress dapat mempengaruhi kesehatan dan meningkatkan resiko terkena berbagai jenis penyakit fisik, dari mulai gangguan pencernaan hingga penyakit jantung.
                Bidang ilmu psikoneuroimunologi mempelajari hubungan stress dengan cara kerja sistem endokrin/kelenjar, sistem kekebalan tubuh, dan sistem saraf. Beberapa kelenjar endokrin terlibat dalam menampilkan respons tubuh terhadap stress. Kelenjar endokrin mengeluarkan hormon langsung kedalam aliran darah. Meskipun hormon mengalir ke seluruh tubuh, kerjanya hanya pada bagian reseptor spesifik. Banyak hormon yang terlibat dalam reaksi stress dan bermacam-macam pola tingkah laku abnormal. Hormon-hormon stress yang diproduksi oleh kelenjar adrenal membantu tubuhmenyiapkan diri mengatasi stressor atau ancaman. Apabila stressor sudah terlewati, tubuh kembali ke keadaan normal.


Stress dan Sistem Kekebalan
                Tubuh kita mempunyai kekuatan untuk menghadapi penyakit melalui fungsi sistem kekebalan, namun kita sering kali tergantung pada ahli-ahli medis untuk menghadapi dan melawan penyakit. Sistem kekebalan (immune system) adalah sistem pertahanan tubuh melawan penyakit. Perlawanan terhadap penyakit ini dilakukan dengan berbagai macam cara. Melemahnya sistem kekebalan tubuh membuat kita rentan terhadap penyakit umum seperti demam dan flu serta meningkatkan resiko berkembangnya penyakit kronis, termasuk kanker.
                Dukungan sosial dapat mengurangi efek negatif stress dalam sistem kekebalan tubuh. Pemaparan terhadap stress dikaitkan dengan peningkatan dan resiko berkembangnya influenza. Orang yang mengalami tingkatan stress harian menunjukkan antibodi yang lebih rendah dalam darah mereka.
                Menulis mengenai peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan dapat memperkuat kesejahteraan psikologis dan fisik, serta memungkinkan untuk meningkatnya respons sistem kekebalan. Menutupi pikiran dan perasaan mengenai peristiwa-peristiwa traumatis erat-erat dapat menempatkan beban yang penuh tekanan pada sistem saraf otonomik, yang selanjutnya dapat memperlemah sistem kekebalan, meningkatkan penerimaan pada gangguan-gangguan tertentu yang terkait dengan stress.

Sindrom Adaptasi Menyeluruh
Hans Selye menciptakan istilah sindrom adaptasi menyeluruh (general adaptation syndrome/GAS) untuk menjelaskan pola respons biologis umum terhadap stressyang berlebihan dan berkepanjangan.
                GAS terdiri dari tiga tahap: tahap reaksi waspada (alarm reaction), tahap resistensi (resistance stage), tahap kelelahan (exhaustion stage). Persepsi terhadap stressor yang muncul secara tiba-tiba akan memicu munculnya reaksi waspada. Walter Cannon menyebut pola respons ini sebagai reaksi berjuang atau melarikan diri (fight-or-flight reaction).
                Apabila stressor bersifat persisten, kita akan mencapai tahap resistansi atau tahap adaptasi pada GAS. Pada tahap ini tubuh membentuk tenaga baru dan memperbaiki kerusakan. Apabila stressor tetap berlanjur atau terjadi stressor baru yang memperburuk keadaan, kita dapat sampai pada tahap kelelahan dari GAS. Apabila sumber stress menetap, kita akan mengalami apa yang disebut Selley sebagai “penyakit adaptasi” (diseases of adaptation).

Stress dan Perubahan Hidup
                Peneliti memperhitungkan stress dalam kaitannya dengan perubahan hidup atau peristiwa hidup. Perubahan hidup menjadi sumber stress bila perubahan hidup tersebut menuntut kita untuk menyesuaikan diri. Perubahan hidup ini dapat berupa peristiwa menyenangkan dan peristiwa yang menyedihkan.
Adanya hubungan antara pemaparan terhadap stressor hidup ini bersifat korelasional, dan bukan eksperimental. Para peniliti tidak mengkondisikan subjek penelitian menghadapi kondisi-kondisi perubahan hidup, data penelitian mereka didasarkan pada pengamatan terhadap hubungan antara perubahan hidup di satu pihak dengan masalah kesehatan fisik, di lain pihak. Arah sebab akibat bisa berbalik, masalah kesehatanlah yang menyebabkan perubahan hidup.
Meskipun perubahan hidup yang menyenangkan (positif) maupun tidak menyenangkan (negatif) dapat menyebabkam stress, perubahan hidup yang positif mengakibatkan gangguan yang lebih ringan daripada perubahan hidup yang negatif. Tidak mengalami peristiwa apa pun juga dapat menimbulkan stress dan berhubungan kuat dengan resiko masalah kesehatan fisik.

Stress Akulturasi: Mampu Bertahan di Amerika
                Para teroretikus sosiokultural telah memperingatkan kita tentang pentingnya memperhitungkan stressor sosial dalam menjelaskan tingkah laku abnormal. Akulturasi menunjukkan pada suatu proses adaptasi terhadap kultur baru melalui perubahan sikap dan tingkah laku, yang harus dilakukan kelompok imigran dan penduduk asli.
                Ada dua teori umum tentang hubungan akulturasi dengan penyesuaian diri. Teori pertama disebut teori peleburan (melting pot theory). Teori ini menyatakan bahwa akulturasi membantu orang menyesuaikan diri dengan kultur setempat. Teori yang kedua adalah teori bikultural  (bicultural theory), penyesuaian psikososial dilakukan dengan mengidentifikasi diri ke dalam kedua kultur, kultur tradisional tempat asal dengan kultur setempat. Kita harus dapat mengukur akulturasi kalau kita akan menyelidiki hubungan akulturasi dengan kesehatan mental dari para imigran dan penduduk asli.
Hubungan akulturasi dengan kesehatan mental penyesuaian psikologis bersifat kompleks, karena bukti-bukti status akulturasi dengan kesehatan mental danbercampur baur. Mereka yang akulturasinya rendah menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang terakulturasi atau bikultural. Status akulturasi yang rendah biasanya dihubungkan dengan rendahnya status sosial ekonomi.
Menutup diri dari kultur setempat menghambat individu dalam penyesuaian diri yang tetap harus dia lakukan agar dapat berfungsi dalam masyarakat multikultural dan umumnya kemudian menjadi ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment). Mempertahankan identitas etnik juga memberikan keuntungan secara psikologis.

Faktor-faktor Psikologis yang Mengurangi Stress
                Stress merupakan fakta hidup, tapi carakita menghadapi stress menentukan kemampuan kita untuk mengatasi stress tersebut. Faktor psikologis seperti cara coping stres, harapan terhadap self-efficacy, ketabahan hati atau daya tahan psikologis, optimisme, dukungan sosial dan identitas etnik dapat menjadi faktor-faktor yang mengurangi atau menahan efek dari stress.


Cara coping stress
                Berpura-pura seakan masalah tidak ada atau tidak terjadi merupakan suatu bentuk penyangkalan. Penyangkalan merupakan suatu contoh coping yang berfokus pada emosi. Orang berusaha segera mengurangi dampak stressor, dengan menyangkal adanya stressor atau menarik diri dari situasi. Namun, coping yang berfokus pada emosi tidak menghilangkan stressor atau tidak juga membantu individu dalam mengembangkan cara yang lebih baik untuk mengatur stressor. Sebaliknya, pada coping yang berfokus pada masalah, orang menilai stressor yang mereka hadapi dan melakukan sesuatu untuk mengubah stressor atau memodifikasi reaksi mereka untuk meringankan efek dari stressor tersebut. Cara coping yang paling mendasar, yaitu yang berfokus pada emosi dan yang berfokus pada masalah.
                Penyangkalan dapat membahayakan kesehatan, terutama bila penyangkalan tersebut membuat seseorang menghindar dari atau tidak mematuhi penanganan medis yang dibutuhkan. Menghindar dapat memicu memburuknya kondisi. Kemungkinan tindakan menghindar ini meningkatkan distres emosional dan selanjutnya berakibat munculnya hendaya fungsi kekebalan tubuh.
                Bentuk lain dari coping yang berfokus pada emosi adalah melamun atau berkhayal yang juga merupakan bentuk penyesuaian terhadap penyakit yang kurang baik. Berkhayal atau melamun merupakan bentuk pelarian secara imajiner, bukan bentuk tindakan untuk mengatasi masalah.
                Coping yang berfokus pada masalah melibatkan strategi untuk menghadapi secara langsung sumber stress.

Harapan akan Self-Efficacy
                Harapan kita terhadap kemampuan diri dalam mengatasi tantangan yang kita hadapi, menampilkan tingkah laku terampil, menghasilkan perubahan hidup yang positif. Kita dapat mengelola stress dengan lebih baik, apabila kita percaya diri dan yakin bahwa kita mampu mengatasi stress.
                Apabila kepercayaan diri untuk mengatasi masalah ini meningkat, maka tingkat hormon stress menurun. Orang yang yakin mereka bisa mengatasi masalah akan lebih rendah tingkat kegelisahannya.

Ketahanan Psikologis
                Sekumpulan trait individu yang dapat membantu mengelola stress yang dialami. Secara psikologis, orang yang ketahanan psikologisnya tinggi cenderung lebih efektif dalam mengatasi stress dengan menggunakan pendekatan coping yang berfokus pada masalah secara aktif. Mereka juga menunjukkan gejala fisik yang lebih sedikit, juga tingkat depresi yang lebih rendah dalam menghadapi stress daripada orang yang ketahanan psikologisnya rendah. Orang yang ketahanan psikologisnya tinggi lebih baik dalam menangani stress karena mereka menganggap diri mereka sebagai “orang yang memilih situasi stress itu sendiri”. Pengendalian adalah faktor kunci dalam ketahanan psikologis.

Optimisme
                Scheier dan Carver mengukur optimisme menggunakan Tes Orientasi Kehidupan. Gejala pada subjek penelitian diawal penelitian diperhitungkan secara statistik sehingga dapat dikatakan bahwa studi tersebut semata-mata menunjukkan bahwa orang yang lebih sehat lebih optimis.

Dukungan Sosial
                Semakin luasnya jaringan kontak sosial yang dimiliki seseorang berhubungan dengan semakin besarnya resistansi/ketahanan terhadap berkembangnya infeksi ketika seseorang terkena viruz flu biasa. Para penyelidik percaya bahwa memiliki kontak sosial yangluas membantu melindungi sistem kekebalan tubuh terhadap stress.
                Dengan adanya orang-orang disekitar akan membantu orang tersebut menemukan alternatif cara coping dalam menghadapi stressor atau sekedar memberi dukungan emosional yang dibutuhkan selama masa-masa sulit.

Identitas Etnik
                Stressor terbesar yang sering dialami adalah rasisme, kemiskinan, kekerasan dan kondisi kehidupan yang padat, akan mengakibatkan tingginya resiko masalah kesehatan. Faktor-faktor yang dapat menahan stress diantaranya adalah jaringan sosial keluarga yang kuat, teman, keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi stress, keterampilan coping, serta identitas etnik.

Faktor-faktor Psikologis dan Gangguan-Gangguan Fisik
                Gangguan fisik yang diyakini disebabkan atau dipengaruhi faktor psikologis pada masa lalu disebut psikosomatis. Gangguan fisik yang menyangkut unsur psikologis bentuknya mulai dari asma dan sakit kepala sampai sakit jantung.

Sakit Kepala
                Apabila sakit kepala terjadi tidak bersamaan dengan gejala-gejala yang lain, maka sakit kepala ini dapat dikelompokkan sebagai gangguan fisik yang berhubungan dengan stress. Stress dapat menyebabkan kontraksi yang kuat, sehingga muncul sakit kepala yang periodik dan kronis. Sakit kepala sebelah (migren) yang parah, diyakini melibatkan perubahan aliran darah ke kepala.

Penyakit Kardiovaskular
                Penyakit jantung koroner (CHD) merupakan penyakit kardiovaskular yang utama. Proses penyakit yang mendasari penyakit CHD adalah arteriosclerosis atau pengerasan arteri. Penyebab utamanya ialah proses yang menyangkut penimbunan lemak sepanjang dinding arteri yang membuat terjadinya sumbatan. Sebagai akibatnya terjadi suatu serangan jantung, suatu kejadian yang mengancam hidup di mana terjadi kematian jaringan jantung karena kurangnya darah yang kaya akan oksigen. Emosi negatif juga merupakan faktor resiko terjadinya gangguan kardiovaskular.
                Terdapat pola perilaku yang merupakan faktir resiko psikologis dari CHD yaitu pola tingkah laku tipe A. Pola ini merupakan suatu gaya tingkah laku seseorang yang menunjukkan ciri-ciri seperti berkemauan keras, ambisius, tidak sabaran, dan kompetitif tinggi, berhubungan dengan resiko yang lebih tinggi untuk mengalami CHD. Stress lingkungan sosial juga menigkatkan resiko terjadinya CHD.

Asma
                Asma adalah suatu gangguan pernafasan, di mana bronki menyempit dan meradang serta memproduksi lendir secara berlebihan. Kadang kala sistem bronkial sampai begitu lemah sehingga serangan berikutnya mematikan.
                Berbagai penyebab dapat terlibat dalam gangguan asma, termasuk reaksi alergi; terkena polusi lingkungan, termasuk asap rokok dan asap pabrik; dan faktor genetis serta faktor immunologi.

Kanker
                Kanker ditandai dengfan berkembangnya sel yang menyimoang atau mengalami mutasi, sel yang tumbuh (tumor) menjalar ke jaringan yang sehat. Sel-sel kanker dapat berakar dimana saja. Apabila sel ini tidak diambil sejak dini, kanker akan berkembang atau membentuk koloni ke seluruh tubuh, mengakibatkan kematian.
                Stress dapat mempercepat berkembangnya virus penyebab kanker. Peristiwa hidup yang menekan dan menyebabkan stress mengawali perkembangan beberapa bentuk kanker. Penelitian lain menunjukkan tidak adanya hubungan antara perkembangan kanker dengan stress.
                Penanganan kanker dapat menggunakan operasi, radiasi, dan kemoterapi. Psikolog dan ahli kesehatan mental dapat berperan membantu pasien kanker mengatasi konsekuensi emosional. Perasaan akan tidak adanya harapan dan tidak berdaya dapat mengganggu penyembuhan. Mengatasi ketidaknyamanan dapat berupa penggunaan relaksasi dan teknik distraksi dapat membantu pasien kanker mengatasi ketidaknyamanan dari kemoterapi.

AIDS
                AIDS adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh tidak berdaya, tidak mampu mempertahankan diri dari serangan penyakit.
                Tidak ada obat atau vaksin untuk infeksi HIV, akan tetapi penggunaan obat antiretroviral yang sangat aktif mambawa perubahan dalam penanganan penyakit ini.
                Pengidap HIV mengalami masalah-masalah psikologis, terutama kecemasan dan depresi. Program pengubahan perilaku difokuskan pada pengurangan hubungan seksual yang berisiko dan penggunaan jarum suntik bersama.


Nevid, Jeffrey S; Rathus, Spencer A; Greene, Beverly, 2003. Psikologi Abnormal. JAKARTA: Penerbit Erlangga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar