Psikologi yang
mempelajari keterkaitan antara faktor psikologis dan kesehatan fisik disebut
psikologi kesehatan. Faktor psikologis mempengaruhi dan dipengaruhi oleh fungsi
fisik, jadi kesehatan fisik dan kesehatan mental tidak terpisahkan.
Istilah stress
menunjukkan adanya tekanan atau kekuatan pada tubuh. Dalam psikologis, kita
menggunakan istilah stress untuk menunjukkan suatu tekanan atau tuntutan yang
dialami individu/organisme agar ia beradaptasi atau menyesuaikan diri. Sumber
stress disebut dengan stressor. Istilah stress perlu dibedakan dengan istilah
distress. Distress mengacu pada penderitaan fisik atau mental. Stress membuat
kita tetap aktif dan waspada. Stress yang terlalu kuat melebihi kemampuan kita
untuk mengatasi (coping ability) dan menyebabkan distress emosional seperti
depresi atau kecemasan, atau keluhan fisik seperti kelelahan dan sakit kepala.
Stress berimpilasi secara luas pada masalah-masalah fisik maupun psikologis.
Kita mulai
mempelajari efek-efek dari stress dengan membahas suatu kategori gangguan
psikologis yang disebut gangguan penyesuaian yang menyangkut reaksi maladaptif
terhadap stress. Gangguan penyesuaian merupakan suatu reaksi maladaptif terhadap
suatu stressor yang dikenali dan berkembang beberapa bulan sejak munculnya
stressor.
Stress dan Penyakit
Stress dapat mempengaruhi
kesehatan dan meningkatkan resiko terkena berbagai jenis penyakit fisik, dari
mulai gangguan pencernaan hingga penyakit jantung.
Bidang
ilmu psikoneuroimunologi mempelajari hubungan stress dengan cara kerja sistem
endokrin/kelenjar, sistem kekebalan tubuh, dan sistem saraf. Beberapa kelenjar
endokrin terlibat dalam menampilkan respons tubuh terhadap stress. Kelenjar
endokrin mengeluarkan hormon langsung kedalam aliran darah. Meskipun hormon
mengalir ke seluruh tubuh, kerjanya hanya pada bagian reseptor spesifik. Banyak
hormon yang terlibat dalam reaksi stress dan bermacam-macam pola tingkah laku
abnormal. Hormon-hormon stress yang diproduksi oleh kelenjar adrenal membantu
tubuhmenyiapkan diri mengatasi stressor atau ancaman. Apabila stressor sudah
terlewati, tubuh kembali ke keadaan normal.
Stress dan Sistem
Kekebalan
Tubuh
kita mempunyai kekuatan untuk menghadapi penyakit melalui fungsi sistem
kekebalan, namun kita sering kali tergantung pada ahli-ahli medis untuk
menghadapi dan melawan penyakit. Sistem kekebalan (immune system) adalah sistem
pertahanan tubuh melawan penyakit. Perlawanan terhadap penyakit ini dilakukan dengan
berbagai macam cara. Melemahnya sistem kekebalan tubuh membuat kita rentan
terhadap penyakit umum seperti demam dan flu serta meningkatkan resiko
berkembangnya penyakit kronis, termasuk kanker.
Dukungan
sosial dapat mengurangi efek negatif stress dalam sistem kekebalan tubuh.
Pemaparan terhadap stress dikaitkan dengan peningkatan dan resiko berkembangnya
influenza. Orang yang mengalami tingkatan stress harian menunjukkan antibodi
yang lebih rendah dalam darah mereka.
Menulis
mengenai peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan dapat memperkuat kesejahteraan
psikologis dan fisik, serta memungkinkan untuk meningkatnya respons sistem
kekebalan. Menutupi pikiran dan perasaan mengenai peristiwa-peristiwa traumatis
erat-erat dapat menempatkan beban yang penuh tekanan pada sistem saraf
otonomik, yang selanjutnya dapat memperlemah sistem kekebalan, meningkatkan
penerimaan pada gangguan-gangguan tertentu yang terkait dengan stress.
Sindrom Adaptasi Menyeluruh
Hans Selye
menciptakan istilah sindrom adaptasi menyeluruh (general adaptation
syndrome/GAS) untuk menjelaskan pola respons biologis umum terhadap stressyang
berlebihan dan berkepanjangan.
GAS
terdiri dari tiga tahap: tahap reaksi waspada (alarm reaction), tahap
resistensi (resistance stage), tahap kelelahan (exhaustion stage). Persepsi
terhadap stressor yang muncul secara tiba-tiba akan memicu munculnya reaksi
waspada. Walter Cannon menyebut pola respons ini sebagai reaksi berjuang atau
melarikan diri (fight-or-flight reaction).
Apabila
stressor bersifat persisten, kita akan mencapai tahap resistansi atau tahap
adaptasi pada GAS. Pada tahap ini tubuh membentuk tenaga baru dan memperbaiki
kerusakan. Apabila stressor tetap berlanjur atau terjadi stressor baru yang
memperburuk keadaan, kita dapat sampai pada tahap kelelahan dari GAS. Apabila
sumber stress menetap, kita akan mengalami apa yang disebut Selley sebagai
“penyakit adaptasi” (diseases of adaptation).
Stress dan Perubahan Hidup
Peneliti
memperhitungkan stress dalam kaitannya dengan perubahan hidup atau peristiwa
hidup. Perubahan hidup menjadi sumber stress bila perubahan hidup tersebut
menuntut kita untuk menyesuaikan diri. Perubahan hidup ini dapat berupa
peristiwa menyenangkan dan peristiwa yang menyedihkan.
Adanya
hubungan antara pemaparan terhadap stressor hidup ini bersifat korelasional,
dan bukan eksperimental. Para peniliti tidak mengkondisikan subjek penelitian
menghadapi kondisi-kondisi perubahan hidup, data penelitian mereka didasarkan
pada pengamatan terhadap hubungan antara perubahan hidup di satu pihak dengan
masalah kesehatan fisik, di lain pihak. Arah sebab akibat bisa berbalik,
masalah kesehatanlah yang menyebabkan perubahan hidup.
Meskipun
perubahan hidup yang menyenangkan (positif) maupun tidak menyenangkan (negatif)
dapat menyebabkam stress, perubahan hidup yang positif mengakibatkan gangguan
yang lebih ringan daripada perubahan hidup yang negatif. Tidak mengalami
peristiwa apa pun juga dapat menimbulkan stress dan berhubungan kuat dengan
resiko masalah kesehatan fisik.
Stress Akulturasi: Mampu Bertahan di Amerika
Para
teroretikus sosiokultural telah memperingatkan kita tentang pentingnya
memperhitungkan stressor sosial dalam menjelaskan tingkah laku abnormal.
Akulturasi menunjukkan pada suatu proses adaptasi terhadap kultur baru melalui perubahan
sikap dan tingkah laku, yang harus dilakukan kelompok imigran dan penduduk
asli.
Ada
dua teori umum tentang hubungan akulturasi dengan penyesuaian diri. Teori
pertama disebut teori peleburan (melting pot theory). Teori ini menyatakan
bahwa akulturasi membantu orang menyesuaikan diri dengan kultur setempat. Teori
yang kedua adalah teori bikultural
(bicultural theory), penyesuaian psikososial dilakukan dengan
mengidentifikasi diri ke dalam kedua kultur, kultur tradisional tempat asal
dengan kultur setempat. Kita harus dapat mengukur akulturasi kalau kita akan
menyelidiki hubungan akulturasi dengan kesehatan mental dari para imigran dan
penduduk asli.
Hubungan
akulturasi dengan kesehatan mental penyesuaian psikologis bersifat kompleks,
karena bukti-bukti status akulturasi dengan kesehatan mental danbercampur baur.
Mereka yang akulturasinya rendah menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan mereka yang terakulturasi atau bikultural. Status
akulturasi yang rendah biasanya dihubungkan dengan rendahnya status sosial
ekonomi.
Menutup diri
dari kultur setempat menghambat individu dalam penyesuaian diri yang tetap
harus dia lakukan agar dapat berfungsi dalam masyarakat multikultural dan
umumnya kemudian menjadi ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment).
Mempertahankan identitas etnik juga memberikan keuntungan secara psikologis.
Faktor-faktor Psikologis yang Mengurangi Stress
Stress
merupakan fakta hidup, tapi carakita menghadapi stress menentukan kemampuan
kita untuk mengatasi stress tersebut. Faktor psikologis seperti cara coping
stres, harapan terhadap self-efficacy, ketabahan hati atau daya tahan
psikologis, optimisme, dukungan sosial dan identitas etnik dapat menjadi
faktor-faktor yang mengurangi atau menahan efek dari stress.
Cara coping stress
Berpura-pura
seakan masalah tidak ada atau tidak terjadi merupakan suatu bentuk
penyangkalan. Penyangkalan merupakan suatu contoh coping yang berfokus pada
emosi. Orang berusaha segera mengurangi dampak stressor, dengan menyangkal adanya
stressor atau menarik diri dari situasi. Namun, coping yang berfokus pada emosi
tidak menghilangkan stressor atau tidak juga membantu individu dalam
mengembangkan cara yang lebih baik untuk mengatur stressor. Sebaliknya, pada
coping yang berfokus pada masalah, orang menilai stressor yang mereka hadapi
dan melakukan sesuatu untuk mengubah stressor atau memodifikasi reaksi mereka
untuk meringankan efek dari stressor tersebut. Cara coping yang paling
mendasar, yaitu yang berfokus pada emosi dan yang berfokus pada masalah.
Penyangkalan
dapat membahayakan kesehatan, terutama bila penyangkalan tersebut membuat
seseorang menghindar dari atau tidak mematuhi penanganan medis yang dibutuhkan.
Menghindar dapat memicu memburuknya kondisi. Kemungkinan tindakan menghindar
ini meningkatkan distres emosional dan selanjutnya berakibat munculnya hendaya
fungsi kekebalan tubuh.
Bentuk
lain dari coping yang berfokus pada emosi adalah melamun atau berkhayal yang
juga merupakan bentuk penyesuaian terhadap penyakit yang kurang baik. Berkhayal
atau melamun merupakan bentuk pelarian secara imajiner, bukan bentuk tindakan
untuk mengatasi masalah.
Coping
yang berfokus pada masalah melibatkan strategi untuk menghadapi secara langsung
sumber stress.
Harapan akan Self-Efficacy
Harapan
kita terhadap kemampuan diri dalam mengatasi tantangan yang kita hadapi,
menampilkan tingkah laku terampil, menghasilkan perubahan hidup yang positif.
Kita dapat mengelola stress dengan lebih baik, apabila kita percaya diri dan
yakin bahwa kita mampu mengatasi stress.
Apabila
kepercayaan diri untuk mengatasi masalah ini meningkat, maka tingkat hormon
stress menurun. Orang yang yakin mereka bisa mengatasi masalah akan lebih
rendah tingkat kegelisahannya.
Ketahanan Psikologis
Sekumpulan
trait individu yang dapat membantu mengelola stress yang dialami. Secara
psikologis, orang yang ketahanan psikologisnya tinggi cenderung lebih efektif
dalam mengatasi stress dengan menggunakan pendekatan coping yang berfokus pada
masalah secara aktif. Mereka juga menunjukkan gejala fisik yang lebih sedikit,
juga tingkat depresi yang lebih rendah dalam menghadapi stress daripada orang
yang ketahanan psikologisnya rendah. Orang yang ketahanan psikologisnya tinggi
lebih baik dalam menangani stress karena mereka menganggap diri mereka sebagai
“orang yang memilih situasi stress itu sendiri”. Pengendalian adalah faktor
kunci dalam ketahanan psikologis.
Optimisme
Scheier
dan Carver mengukur optimisme menggunakan Tes Orientasi Kehidupan. Gejala pada
subjek penelitian diawal penelitian diperhitungkan secara statistik sehingga
dapat dikatakan bahwa studi tersebut semata-mata menunjukkan bahwa orang yang
lebih sehat lebih optimis.
Dukungan Sosial
Semakin
luasnya jaringan kontak sosial yang dimiliki seseorang berhubungan dengan semakin
besarnya resistansi/ketahanan terhadap berkembangnya infeksi ketika seseorang
terkena viruz flu biasa. Para penyelidik percaya bahwa memiliki kontak sosial
yangluas membantu melindungi sistem kekebalan tubuh terhadap stress.
Dengan
adanya orang-orang disekitar akan membantu orang tersebut menemukan alternatif
cara coping dalam menghadapi stressor atau sekedar memberi dukungan emosional
yang dibutuhkan selama masa-masa sulit.
Identitas Etnik
Stressor
terbesar yang sering dialami adalah rasisme, kemiskinan, kekerasan dan kondisi
kehidupan yang padat, akan mengakibatkan tingginya resiko masalah kesehatan.
Faktor-faktor yang dapat menahan stress diantaranya adalah jaringan sosial
keluarga yang kuat, teman, keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam
menghadapi stress, keterampilan coping, serta identitas etnik.
Faktor-faktor Psikologis dan Gangguan-Gangguan Fisik
Gangguan
fisik yang diyakini disebabkan atau dipengaruhi faktor psikologis pada masa
lalu disebut psikosomatis. Gangguan fisik yang menyangkut unsur psikologis
bentuknya mulai dari asma dan sakit kepala sampai sakit jantung.
Sakit Kepala
Apabila
sakit kepala terjadi tidak bersamaan dengan gejala-gejala yang lain, maka sakit
kepala ini dapat dikelompokkan sebagai gangguan fisik yang berhubungan dengan
stress. Stress dapat menyebabkan kontraksi yang kuat, sehingga muncul sakit
kepala yang periodik dan kronis. Sakit kepala sebelah (migren) yang parah,
diyakini melibatkan perubahan aliran darah ke kepala.
Penyakit Kardiovaskular
Penyakit
jantung koroner (CHD) merupakan penyakit kardiovaskular yang utama. Proses
penyakit yang mendasari penyakit CHD adalah arteriosclerosis atau pengerasan
arteri. Penyebab utamanya ialah proses yang menyangkut penimbunan lemak
sepanjang dinding arteri yang membuat terjadinya sumbatan. Sebagai akibatnya
terjadi suatu serangan jantung, suatu kejadian yang mengancam hidup di mana
terjadi kematian jaringan jantung karena kurangnya darah yang kaya akan
oksigen. Emosi negatif juga merupakan faktor resiko terjadinya gangguan
kardiovaskular.
Terdapat
pola perilaku yang merupakan faktir resiko psikologis dari CHD yaitu pola
tingkah laku tipe A. Pola ini merupakan suatu gaya tingkah laku seseorang yang
menunjukkan ciri-ciri seperti berkemauan keras, ambisius, tidak sabaran, dan
kompetitif tinggi, berhubungan dengan resiko yang lebih tinggi untuk mengalami
CHD. Stress lingkungan sosial juga menigkatkan resiko terjadinya CHD.
Asma
Asma
adalah suatu gangguan pernafasan, di mana bronki menyempit dan meradang serta
memproduksi lendir secara berlebihan. Kadang kala sistem bronkial sampai begitu
lemah sehingga serangan berikutnya mematikan.
Berbagai
penyebab dapat terlibat dalam gangguan asma, termasuk reaksi alergi; terkena
polusi lingkungan, termasuk asap rokok dan asap pabrik; dan faktor genetis
serta faktor immunologi.
Kanker
Kanker
ditandai dengfan berkembangnya sel yang menyimoang atau mengalami mutasi, sel
yang tumbuh (tumor) menjalar ke jaringan yang sehat. Sel-sel kanker dapat
berakar dimana saja. Apabila sel ini tidak diambil sejak dini, kanker akan
berkembang atau membentuk koloni ke seluruh tubuh, mengakibatkan kematian.
Stress
dapat mempercepat berkembangnya virus penyebab kanker. Peristiwa hidup yang
menekan dan menyebabkan stress mengawali perkembangan beberapa bentuk kanker.
Penelitian lain menunjukkan tidak adanya hubungan antara perkembangan kanker
dengan stress.
Penanganan
kanker dapat menggunakan operasi, radiasi, dan kemoterapi. Psikolog dan ahli
kesehatan mental dapat berperan membantu pasien kanker mengatasi konsekuensi
emosional. Perasaan akan tidak adanya harapan dan tidak berdaya dapat
mengganggu penyembuhan. Mengatasi ketidaknyamanan dapat berupa penggunaan
relaksasi dan teknik distraksi dapat membantu pasien kanker mengatasi
ketidaknyamanan dari kemoterapi.
AIDS
AIDS
adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV. HIV
menyerang sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh tidak berdaya, tidak mampu
mempertahankan diri dari serangan penyakit.
Tidak
ada obat atau vaksin untuk infeksi HIV, akan tetapi penggunaan obat
antiretroviral yang sangat aktif mambawa perubahan dalam penanganan penyakit
ini.
Pengidap
HIV mengalami masalah-masalah psikologis, terutama kecemasan dan depresi.
Program pengubahan perilaku difokuskan pada pengurangan hubungan seksual yang
berisiko dan penggunaan jarum suntik bersama.
Nevid, Jeffrey S; Rathus, Spencer
A; Greene, Beverly, 2003. Psikologi
Abnormal. JAKARTA: Penerbit Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar